Sugeng Rawuh | Selamat Datang | Welcome | Welkom | مرحبا | 欢迎

Nuansa Klasik dalam Batik Dugderan

Cermin dari jatidiri kreatif, coba diwujudkan dalam kemasan perayaan dugderan kali ini. Batik rupanya sangat harmonis dengan esensi dugderan dalam rangka melestarikan budaya leluhur serta jatidiri.

Disamping tema yang kreatif, agenda dugderan kali ini juga mengajak khalayak dan warga masyarakat untuk memperingati kembali kepada sejarah ritual dan tempat yang menjadikan momen akbar ini melegenda. Sehingga kawasan klasik pasar johar dan masjid agung semarang, dipilih untuk disuguhkan sebagai tempat terselenggaranya acara, sebagai nuansa klasik.

Simbol dari rangkaian perayaan dugderan disampaikan sebagai bagian dari budaya luhur di alam raya ini, simbol yang dimaksud sebagai perjuangan jatidiri dalam perjalaan waktu insan manusia.

Dugderan menandai simbol perjuangan masyarakat sebagai wujud manusia universal,  membangun harmoni manusia dan lingkungan alam. Dugderan sebagai pewaris semangat untuk tetap gigih berjuang dalam memperbaiki diri pribadi, sosial masyarakat dan lingkungan, agar bijak sosial budaya dan ekologi sangat mendesak untuk diwujudkan dalam rangka menjaga dan mempercantik warisan budaya.

  • Share/Bookmark

WARAK NGENDHOG van DUGDER

warak-ngendhogFestival Dugderan kian marak dan memukau benak pemirsa. Rupanya salah satu ciri khas dari acara festival, tersirat jejak simbolis Warak Ngendog, dalam arakan yang dilestarikan hingga kini. Monggo kita sama-sama cermati.
Warak Ngendog merupakan mahkluk prototipe jenis binatang, yang mewujud dalam imajinasi rekaan, perpaduan tubuh dengan kambing yang membentuk badan, leher panjang, berkepala naga dan kulit bersisik seperti bulu berlapis yang didesain dari aneka kertas warna-warni. Lalu…..Ngendhog (bertelur)

Mengapa harus ‘Warak’ yang ‘Ngendog’ yang muncul pada waktu itu?
Kok bukan ayam, ikan, bebek, ular atau sejenis binatang yang lain ya… Mungkin sebuah karya ide imajinasi boleh subyektif kali ya… Akan tetapi apapun rekaan yang diwujudkan dalam simbol, akan dapat dipahami ketika kita paham akan unsur dan waktu yang membentuk simbol itu lahir…(mungkin?!!@*)

Bagaimana dengan yang ini…

“…Adalah sebuah rekaan kambing bersisik emas dengan kepala naga pada warak ngendog, sangat lekat dengan muatan simbol perpaduan ragam budaya yang membentuk kota semarang. Yakni budaya luhur yang diambil dari jawa sebagai tempat bernaung, berkolaborasi atau mungkin berasimilasi dengan budaya arab, cina dan beberapa budaya suku lain, kemudian Ngendog, lahir/ terbentuk/ muncul/ terwujud harmoni baru pada kehidupan nyata…”

Dan,…Rupa-rupanya jika kita kembali pada awal terjadi pergumulan budaya dalam wilayah geografis kota Semarang yang pada masa Kanjeng RM Aryo Purboningrat sebagai Kanjeng bupati semarang pada waktu itu, konon kehidupan masyarakat dari berbagai ragam budaya tengah berlangsung dalam irama dan nuansa “beragam”. Sehingga kalau kita coba cermati, kolaborasi budaya yang damai hingga kini dapat kita lihat dan rasakan .

Kini… Mengapa Warak Ngendog pantas menjadi simbol harmoni ??

  • Share/Bookmark
dugderan-bawah