Rob Sahabat Setia ku
Mau atau tidak, bangsa Belanda telah memberikan wajah dan rona bagi kota
Semarang. Dan ketika disadari benar, jika kita memiliki komitmen dan konsisten
untuk merawat wilayah, tata kota dan infrasturktur yang diwujudkan bangsa
Belanda, konon kawasan pariwisata dan pintu gerbang dunia internasional akan
makin terpelihara di Kota Semarang.
Kata leluhur warga negeri Belanda, … ada yang bikin kangen warga mereka kepada
Semarang sebagai kota tujuan wisatawan negeri kincir angin itu. Salahsatu
karena rancangan jantung kota dan wilayah penyangga kota yang merupakan
peninggalan leluhur mereka dalam wujud heritage dan landskap wilayah semarang, serta rintisan tata laksana pemerintahan masa pendudukan bangsa Belanda kala itu, yang mungkin masih terasa hingga kini.
Wujud nyata yang lekat dengan rancangan dan rintisan bangsa Belanda yang konsisten dalam mewujudkan kota perairan yang mendukung aktivitas ekonomi dan pemerintahannya, telah diaktualkan pada arsitektur dan tata wilayah kota semarang, yang dipersiapkan untuk menjadi Pintu Gerbang ekonomi perdagangan internasional dan pariwisata. Dari Pelabuhan Tanjung Emas yang terhubung dengan lalu lintas sungai hingga Jembatan Berok yang menandai titik lalu lintas wisata dan jantung ekonomi perdagangan dan pemerintahan kota semarang, yang kini kita kenal dengan KOTA LAMA. Didukung tata wilayah semarang yang terletak di daerah penyangga di dataran lebih tinggi yang dipersiapkan untuk menjaga sistem drainase dan irigasi dan menjaga struktur geologis dan geografis wilayah Jantung Kota Semarang. WOW…amazing…….
Kita masih bisa lho menyaksikan tempat yang dijuluki KOTA LAMA, kawasan cagar budaya Kota Semarang, yang idealnya akan dipertahankan, direstorasi kembali kepada bentuk dan nuansa awalnya… namun tak kunjung mewujud… Ada apakah gerangan?
Ternyata ada satu hal yang lebih dipilih kawasan dan wilayah Kota Lama
Semarang daripada perbaikan wajah dan nuansa……..
Yaitu ROB,lebih tepatnya Banjir Rob… Ternyata “wilayah dan kawasan cagar
budaya Semarang” lebih memilih rob sebagai sahabat setia, daripada Tata ulang
menyeluruh wilayah strategis pintu gerbang pariwisata internasional Jawa
Tengah, yang konon aksesnya sudah lekat di benak bangsa mancanegara.
Banjir rob Sahabat setia Ku….Aku lebih memilihmu daripada Menjadi
Pintu Gerbang pariwisata dan perdagangan Internasional…





July 1st, 2010 at 2:47 pm
Betul sekali kiranya. Saatnya kita harus komit dengan rehabilitasi lingkungan, kembali ke alam dari cara pandang dan cara hidup…
Siap, kita lakukan bersama
July 6th, 2010 at 11:09 am
Eman eman yah, kalo dibiarkan hilang tinggal cerita
July 11th, 2010 at 1:49 pm
Wah alamat jadi cerita lalu nich.
July 11th, 2010 at 7:11 pm
Kita yang lahir dari kota semarang, walau kini tinggal di negara tetangga yang lebih maju dan tertata, sangat ingin melihat semarang menjadi tujuan wisata internasional.
July 22nd, 2010 at 4:25 pm
hiks, kalo dibiarkan lama2 tenggelam nih, bagaimana dengan penduduk yang sudah lama disana?
July 24th, 2010 at 9:36 am
Gak nyangka bisa seperti itu
July 28th, 2010 at 12:50 pm
Nanti perayaan dugderan jadi naik perahu. Lha wong tempat bersejarahnya tergenang air.
asyik ya bisa berakit rakit ke hulu
August 28th, 2010 at 1:36 pm
waduhhh, priwe’ nih masyarakat dan pemerintah ? Nyong orang banyumas yang bangga semarang sebagai ibukota, kok ndak dibereskan sih, wong masalahe katon
September 28th, 2010 at 3:26 pm
kepada siapa saja yg terpilih jadi walikota semarang. Tidak usahlah pemda menambah bangunan2 fisik baru untuk menunjukkan adanya pembangunan, tetapi cukuplah alokasikan dana semaksimal mungkin untuk rekonstruksi kota lama dan biaya perawatannya termasuk bagi penduduknya yg selalu jadi korban Rob.