Sugeng Rawuh | Selamat Datang | Welcome | Welkom | مرحبا | 欢迎

Dolanan Bocah – Tradisi Sarat Nilai Budaya Luhur

The world is PLAYING and going to the other round ?

Surutnya nilai – nilai budaya luhur juga dapat kita kenali dari meredupnya nilai-nilai kebersamaan, kedekatan dengan alam, dan tumpulnya semangat berkreatifitas. Yang semua itu telah ada dalam dolanan tradisonal anak – anak jaman dulu.

dolanan-dugderan-webMeredupnya popularitas permainan tradisional, mahfum jika dibarengi dengan merosotnya pamor dan keberadaan permainan itu. Evolusi teknologi membuat wahana aktivitas bermain semakin praktis. Dengan perangkat serba elektrik, media permainan seperti playstation, wahana bermain di pasar modern dan mall, komputer dengan aplikasi game dan game online, membuat aktivitas bermain semakin seru. Konsentrasi, adrenalin hingga imajinasi ditawarkan dalam paket permainan modern. Kita diajak untuk berpengalaman dalam dunia fantasi para perancang permainan dua dimensi hingga virtual tiga dimensi. Amazing, mengasyikan,… memang.

Sementara, untuk menikmati permainan yang menekankan unsur kebersamaan, kita harus membayar mahal lembaga penyedia wahana bermain, atau juga pengelola outbond training. Ya, mereka yang akan mengajak kita bermain seharian di kebun atau tanah lapang dalam suasana pedesaan yang alami dan asri.

Padahal, nilai-nilai kebersamaan dan kedekatan dengan alam yang menonjol dalam permainan tradisional ini mencerminkan kehidupan yang guyub di lingkungan. Pada saat purnama anak-anak menyerbu pelataran rumah untuk bermain gobag sodor, petak umpet, jamuran, ‘engkl’ek, lompat tali, nekeran(kelereng), dan dolanan kolektif lainnya.

Kreativitas juga lahir dalam keterbatasan anak-anak jaman dulu. Dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan rumah, lahirlah permainan / dolanan sederhana namun tetap menarik dimainkan.

Ketika meluncur dari ketinggian dengan bergantung di tali yang melintas ke tempat yang lebih rendah, memacu adrenalin. Dan ketika kita menceburkan badan ke sungai dengan perahu karet, kegirangan menyelimuti, bernostalgia ke masa kanak-kanak yang hilang.

  • Share/Bookmark

5 comments so far

  1. alhest
    #1

    Tempat kayaknya jadi masalah sih, karena ruang publik sudah dikapling kapling, gimana dong?

  2. Kalula
    #2

    Anak negeri kini di luar negeri
    Sepi aspirasi karya sendiri
    Karya aseli mudah dibeli
    Gigit jari dibawa lari

  3. koko
    #3

    pemda kurang bergairah garap ruang publik buat anak-anak….piye jal…??? anak-anak adalah penerus generasi bangsa lho….hayoooo…

  4. adi
    #4

    Permainan Futsal di berbagai tempat di kota semarang, bisa jadi menjadi bagian awal reborn ruang publik untuk DOLANAN BOCAH abad kini, bisakah?

  5. hakim
    #5

    permainan tempo doeloe banyak yang lebih edukatif dan kreatif. Bagaimana bila di semarang diadakan festival “Dolanan Anak”?

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

dugderan-bawah