POP ART ” … Pop art (kesenian/kebudayaan ngepop) menurut ”Britannica Ensiclopedia” berkembang awal tahun 60-an, tokohnya antara lain Andy Warhol, Roy Lichtenstein, Claes Oldenburg dan Robert Indiana.
Pop art sendiri merupakan karakter penggambaran semua aspek dari kebudayaan populer yang memberikan dampak yang kuat dari kehidupan kontemporer. Ikonografi yang dipakai diambil dari televisi, buku komik, majalah film, dan semua bentuk advertising yang disampaikan secara empati dan objektif tanpa memuja atau penghukuman tetapi dengan menunjukkan kesegaran dalam arti tetap menunjukkan ketepatan teknik komersial yang dipakai media dari ikonografi yang dipinjam. Selain itu, gerakan pop art merupakan upaya untuk kembali lebih objektif dan umum dalam menerima karya seni. Pada saat itu, ada dominasi seniman abstrak ekspresionis Amerika dan Eropa.
Gerakan ini sekaligus merupakan penentangan dan penolakan pada supremasi seni tinggi dan seni avant-garde. Jadi pop art merupakan refleksi dari faktor sosial dan situasi yang dihadapi masyarakat — yang secara mudah dan cepat dieksploitasi media massa.
Gambar dan Narasi Oleh : Rudy Moraszo
son
22 June 2011
Grebeg Express
abstrak, advertising, art, ekspresionis, film, ikonografi, komersial, komik, kontemporer, majalah, obyektif dan umum, pop, pop art, seni
Nashruddin Hoja duduk bersama dua temannya di kedai kopi. Mereka lalu berdiskusi tentang kematian, “Ketika kamu terbaring di liang lahat dan teman-teman serta keluargamu berada di sekelilingmu, apa yang kamu ingin dengarkan dari mereka?”. Teman yang pertama menjawab, “Aku ingin mendengar mereka berkata bahwa aku seorang dokter dan kepala keluarga yang hebat!”. Teman yang kedua pun menjawab, “Aku ingin mendengar mereka berkata bahwa aku suami yang baik dan seorang guru hebat yang membawa perubahan besar pada murid-muridku nantinya.” Kemudian Nahsruddin Hoja pun berkata, “Kalau aku sih inginnya mendengar orang-orang di sekeliling liang berteriak…Lihat, dia bergerak!”
Dengan tujuan hendak dijual, Nashruddin Hoja membawa keledainya ke pasar. Seorang laki-laki mengulurkan tangan ke moncong keledai agar tahu umur keledainya (sebagaimana biasa). Tetapi tangannya malah digigit keledai itu, sehingga ia pun mengumpat dan mencaci, lalu pergi. Kemudian datanglah seorang laki-laki dan memegang ekornya… Kali ini keledai itu mengibaskan ekornya kuat-kuat… sehingga laki-laki itupun terbanting ke tanah… Ia pun mencaci makinya, dan kemudian pergi… Akhirnya datanglah seorang blantik (pedagang hewan), mendekati Nashruddin Hoja dan berkata, ” Keledaimu ndak akan laku dijual”.
Nashruddin Hoja balas menjawab, ” Wong aku membawanya bukan untuk dijual kok… tapi biar mereka tau apa yang kuderita karena keledai satu ini…”
Dugderers Terbaru