Sugeng Rawuh | Selamat Datang | Welcome | Welkom | مرحبا | 欢迎

Taman Tabanas

taman-tabanas-from-alam-indah-semarang
Taman Tabanas riwayatmu kini.

  • Share/Bookmark

Perempatan Pahlawan-Siranda

perempatan-pahlawan-siranda
Perempatan Pahlawan-Siranda dilihat dari Selatan

  • Share/Bookmark

Jalan Pahlawan

sudut-jalan-simpanglima-pahlawan-semarangJln. Pahlawan dilihat dari arah Simpanglima, Semarang.

  • Share/Bookmark

Kuburan Londo op Toempangweg

kuburan-londo-toempangKuburan Londo atau kuburan tentara Belanda yang meninggal waktu perang di Indonesia. Terletak di Daerah Tumpang atau Gajahmungkur, Semarang.

  • Share/Bookmark

Dugderan Bawa Simbol

Dugderan menjadi bagian dari ritual komunitas semarang yang unik. Nguri-uri kabudayan warisan leluhur, dugderan senantiasa dipelihara dengan memperingati berkala setiap tahunnya. Kemasan unik lelampahan warak ngendog yang didapuk jadi lakon sekaligus maskot dugderan, selalu dinanti kehadirannya oleh pemirsa.

Bedug Dug… disambut dengan letupan meriam Der… , menengarai simbol yang sarat dengan makna. Dari kemasan yang hingar bingar tersirat semangat dan tekad kuat yang tercetus dalam niat untuk kembali pada perjuangan sebagai manusia yang hakiki.

dug-topDengan jelas simbol dari rangkaian perayaan dugderan disampaikan oleh pencetus awal yang sekaligus sebagai pemimpin dan pengemban amanat penerus budaya luhur yaitu kanjeng adipati. Sebagai bagian dari budaya luhur di alam raya ini, simbol yang dimaksudkan sebagai awal perjuangan manusia, sangat relevan dalam perjalaan waktu tiap insan manusia.

Tanpa bermaksud memuat kepentingan apapun, langkah adipati dalam dugderan menandai perjuangan warga masyarakat sebagai wujud dari manusia universal, sangat kompeten berperan dalam membangun karakter insan manusia ber-budi bawa leksana. Dugderan senantiasa dipengeti agar semangat untuk tetap gigih berjuang dalam memperbaiki diri pribadi, sosial masyarakat dan lingkungan. Bijak diri, bijak sosial budaya, serta bijak ekologi dalam rangka menjaga dan mempercantik warisan budaya dalam wujud apapun, sangat mendesak untuk diwujudkan.

  • Share/Bookmark

Pasar Malam Bukan Biasa

pasar-malam

Pada tiap perayaan ritus tradisional, pasar malam hampir selalu hadir untuk menambah kemeriahan. Seperti Dugderan di Semarang, atau Sekaten dan suran Mbah Demang di Jogja.

Menghadirkan pasar malam telah menjadi tradisi sejak masa Hindu Jawa. Tradisi reramaian diselenggarakan pada era raja raja kerjaan Jawa. Kisah Prabu Brawijaya V raja terakhir Majapahit, dengan sang putra, Raden Patah hendak memboikot, bila keputusannya untuk memeluk Islam tidak disetujui. Dengan irama lagu yang ngelangut untuk melipur hati, justru bikin raja tambah duka. Gamelan pun dimainkan dengan irama riang untuk menghidupkan suasana dan membangkitkan semangat. Sehingga ada yang menyebut sebagai gamelan Kyai Sekati, ditabuh saat raja sedang sesak ati.

Ketika Islam masuk ke tanah Jawa, keramaian rakyat tak dapat lepas dari peran Walisongo. Untuk menyebarkan Islam secara luas, Walisongo memanfaatkan tradisi atau kebiasaan yang telah ada, termasuk kegemaran akan gamelan dan keramaian. Ketika Sunan Kalijaga merayakan Maulud dengan membunyikan gamelan Kyai Sekati (di Kraton Yogyakarta, gamelan ini dikenal dengan nama Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga). Gamelan yang mengalun indah, dengan pelataran masjid yang dihias bunga aneka warna, menarik perhatian khalayak ramai. Mereka pun datang berduyun-duyun, bersukacita dalam kemeriahaan itu, untuk kemudian masuk Islam secara sukarela.

Sebagaimana pada keramaian perayaan Dugder, nama upacara ini diambil dari perpaduan bunyi bedug yang dipukul sehingga berbunyi dug, dan bunyi meriam yang mengikuti kemudian disuarakan dengan der. Telah dilakukan sejak 1881, tradisi yang dikenal dengan dugderan ini menjadi tanda bahwa bulan Ramadhan sudah menjelang, karena dilaksanakan tepat satu hari sebelum bulan puasa.

Kemeriahan seperti itu terus berlangsung di tengah upacara-upacara kerajaan atau untuk menyambut hari besar agama Islam. Namun masyarakat melihatnya bukan lagi sekadar wahana melanggengkan tradisi. Pasar malam yang diadakan mengikuti ritual, menjadi pusat keramaian, sehingga kini nyaris selalu riuh oleh hiburan. Mulai dari stan-stan permainan hingga panggung hiburan. Di sisi lain, momen itu dimanfaatkan pula untuk mengais laba. Beberapa hari sebelum tradisi ritual berlangsung, pedagang telah menggelar dagangannya untuk menyambut pembeli pada saat acara ini dimulai. Maka, pengunjung pun dikenai tiket masuk dan bertaburanlah mereka yang menjajakan jajanan, mainan murah, atau pakaian grosiran di seantero pasar malam.

Pasar malam, mendekati dini hari, hiruk pikuk itu perlahan surut. Para pengunjung berangsur pulang dan pedagang pun kukut. Dengan pasar malam,rakyat terhibur, namun yang lebih penting; tradisi tak lekas terkubur.

D-pedia
ngelangut : suasana muram durja
sesak ati : gundah; sakit hati
kukut : mengakhiri aktifitas dagang

  • Share/Bookmark

Mangut Pe van Semarang

mangut-pe-panggangBelasan tahun merantau, namun bila pulang kampung halaman di Semarang selalu masakan ini yang dicari. Ya, mangut adalah salah satu masakan khas daerah pantai utara (pantura) Jawa yang menggunakan ikan laut sebagai bahan utamanya, walopun di daerah lain selatan Jawa juga ada, namun serasa kurang pas karena bukan ikan laut yang menjadi bahan utamanya karena biasanya diganti dengan ikan air tawar. Bahan utamanya biasanya ikan laut seperti pari atau kalo bahasa Jawa pantura sering disebut iwak pe, yang dipanggang/diasap namun kebanyakan juga ada yang memakai ikan manyung seperti yang dijual di warung-warung pinggir jalan. Jika bahan utamanya ikan air tawar, biasanya menggunakan ikan nila, ikan mujahir, ikan lele, dll.

Dengan bumbu dapur yang dihaluskan, kemudian digoreng gongso (digoreng dengan minyak sedikit) dipadukan dengan kuah bersantan, daun salam, dll, aroma yang dikeluarkan memang menggoda. Apalagi ketika kuahnya dicoba, wuih, rasanya langsung kepingin tambah nasi, hehe. Hebatnya lagi (bagi yang pernah mencoba), bila membuat mangut ada bahan/bumbu yang kurang maka dari aroma ketika memasak pasti akan ketahuan.

  • Share/Bookmark

Rindang di Kuburan Londo

rindang-toempangwegPengen makan santai en rendevous dengan nuansa kuburan? Ada lho di Semarang…. di daerah yang orang semarang sebut kota atas, tepatnya di Taman Gajah Mungkur. Suasana teduh dari rindangnya pepohonan ketika kita menikmati makanan, menambah teduh suasana.kuburan-londo1 Ada banyak warung dengan banyak menu yang akan membuat perut anda nikmat… ada goreng, bakar, sayuran, minuman…anda bebas memilih warung yang anda suka sesuai selera…yang seger, manis, asem, kecut, panas, dingin.lokasi-warung-makan-gajah-m

Tidak jauh dari Taman Gajah Mungkur terbentang Kuburan Londo ( Makam Belanda ), tentu saja yang dimakamkan adalah orang-orang Belanda jadul yang pernah berada di Semarang, pada masa awal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Konon sampai sekarang tetap dipelihara

Coba rendevous ke sana…. Paling rame kalo pas makan siang, banyak orang kantoran makan di sana.

  • Share/Bookmark

Cafe Rider en Cuci Salju Motor

cuci-salju-tmblangBagi para raider yang padat akivitas dalam sehari-harinya, sembari rehat pasti pengen tunggangan anda terlihat ciamik & kinclong….Tidak salah kalo melewatkan waktu di tempat bernuansa cafe dengan menu gado-gado & es dawetnya…

Silahkan datang aja ke Jl. Prof.Sudharto 60, itu lho jalan menuju kampus UNDIP tembalang Semarang. cuci-salju-tembalang1Di sana, motor kesayangan kita dijamin kinclong dengan cuci salju…tapi bukan import dari eropa lho saljunya… Dan lagi, nyucinya gak lama-lama amat kok., soalnya pake standard waktu….

Selain bikin kinclong motor,….yang pasti tidak bikin kita bosen nungguin motor yang lagi dicuci… Kalo malam, cafe itu menyediakan jagung bakar juga lho… Mau coba…?

  • Share/Bookmark
dugderan-bawah